 Pergantian abad 20 ke abad 21 membawa berbagai fenomena dalam kehidupan masyarakat umum maupun masyarakat ilmiah. Kita belum lama diajak untuk bersibuk ria dengan frasa “Atrium 21”, “Abad Millenium”, “Tes DNA”, “Aid”. Khusus untuk DNA telah memberikan informasi tentang uji konfirmasi berdasar lajur-lajur kaitan fisiologis terkait hubungan hierarkhial genetik biologis antar keluarga yang memang sebelumnya diyakini memiliki keunikan jalur antar family ini. Melalui DNA inilah kita dapat memastikan, bahwa seseorang memiliki hubungan darah atau bukan.
Dalam konteks DNA, hanya kasus kecil jika bapak dan ibu orang cerdas kemudian menurunkan anak yang bodoh. Memang ini pendapat kuno, bahwa kecerdasan, faktor heriditas hanya merupakan salah satu faktor. Bagaimana asupan gizi, pola asuh, obat-obatan. Namun kita jarang menemukan bapak ibunya (secara ilmiah) memiliki kapasitas otak berkualitas rendah akan menghasilkan anak yang memiliki kapasitas otak berkualitas tinggi.
Hal ini teruji dari berbagai verifikasi para ilmuwan, bahwa sebagaimana sidik jari dan tes DNA terdapat hubungan yang linear hubungan hierarkial, kecuali tentu ada faktor-faktor lain. Misalnya: kecatatan, kelainan karena faktor kelahiran, pemeliharaan fisiologis yang tidak sempurna, pemeliharaan dan pola asuh dalam menjaga kesehatan mental anak.
|