<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Primagama Semarang &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://primagama.org/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://primagama.org</link>
	<description>Terdepan dalam Prestasi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Dec 2011 02:16:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Bukan Cuma Soal &#8220;Nyontek&#8221;, di Mana Kejujuran?</title>
		<link>http://primagama.org/2011/06/21/bukan-cuma-soal-nyontek-di-mana-kejujuran/</link>
		<comments>http://primagama.org/2011/06/21/bukan-cuma-soal-nyontek-di-mana-kejujuran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 13:39:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://primagama.org/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, KOMPAS.com — Irma dan Siami adalah dua ibu yang mengungkapkan telah terjadi kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional SD di sekolah tempat anak mereka menuntut ilmu. Putra mereka diarahkan dan diorganisasi guru untuk melakukan kecurangan dengan membagikan jawaban soal ujian kepada teman-temannya. Irma, orangtua siswa SD 06 Petang Pesanggrahan, Jakarta Selatan, menyatakan, tak memiliki maksud [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>JAKARTA, KOMPAS.com </strong>— Irma dan Siami adalah dua ibu yang mengungkapkan telah terjadi kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional SD di sekolah tempat anak mereka menuntut ilmu. Putra mereka diarahkan dan diorganisasi guru untuk melakukan kecurangan dengan membagikan jawaban soal ujian kepada teman-temannya. Irma, orangtua siswa SD 06 Petang Pesanggrahan, Jakarta Selatan, menyatakan, tak memiliki maksud apa pun di balik apa yang dilaporkannya. Sama seperti Siami, ia hanya menuntut sebuah kejujuran. Bukan penyangkalan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya punya bukti. Saya ingin tahu, keseriusan dari pemerintah, khususnya orang-orang dewasa, untuk melihat kasus ini. Apa pun yang saya punya akan saya keluarkan dengan tepat kalau mereka tidak sadar. Kita harus membebaskan anak-anak kita dari tangan kotor orang dewasa dan bukan mengikuti ambisi orang dewasa,&#8221; ujar Irma kepada <em>Kompas.com</em>, Rabu (15/6/2011) malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menyatakan terkejut dengan kesimpulan Kementerian Pendidikan Nasional atas kasus kecurangan di <a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/15/12330119/UN.di.SD.Gadel.II.Tak.Perlu.Diulang">SD Gadel II Surabaya</a>. <a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/15/12155065/Mendiknas.Tak.Terjadi.Sontek.Massal.di.Gadel">Menteri Pendidikan Nasional M Nuh mengatakan</a>, berdasarkan hasil analisa tak bisa dikatakan terjadi sontek massal karena dilihat dari pola jawaban siswa, tak ada pola identik dalam lembar jawaban 60 siswa peserta ujian. Menurut Irma, apa yang terjadi di Surabaya hampir sama dengan yang dialami anaknya. Adanya upaya pengorganisasian terhadap siswa untuk berbuat curang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya hanya menuntut untuk melindungi hak anak, mereka berhak mendapat pendidik yang layak. Anak SD mana ada pikiran untuk mencontek massal. Tetapi, yang menyuruh <em>nyontek</em> itu orang dewasa, guru mereka. Saya tidak mencari musuh. Saya juga tidak masalah kalau UN diulang. Buat saya, tidak penting nilai akademik tinggi, tetapi akhlak, kejujuran, itu yang harus ditanamkan kepada anak-anak,&#8221; tutur Irma.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya merasa anak-anak tidak dilindungi. Ibu Siami hanya mewakili anaknya, saya mewakili anak saya berbicara kejujuran. Bagaimana kalau mereka sudah berbicara jujur dan kita orang dewasa malah menyangkalnya? Mereka akan berpikir, tidak ada gunanya bicara jujur. Itu yang saya tidak mau,&#8221; lanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dihubungi terpisah, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait juga mengatakan, anak-anak yang sudah mengungkapkan apa yang dialaminya secara jujur hendaknya diberikan apresiasi. Hal ini dinilainya penting agar anak-anak merasa apa yang telah dilakukannya adalah benar dengan mengungkapkan tindakan kecurangan yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Anggota Komisi X DPR yang membidangi masalah pendidikan, Deddy Gumelar, mengatakan, substansi persoalan yang harus dilihat pemerintah bukan sekadar ada pencontekan massal atau tidak. Namun, ada perilaku memerintah siswa untuk berbuat curang oleh guru.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ini adalah sebuah dekadensi moral pendidikan kalau memang gurunya yang memang meminta anak melakukan itu. Kalau hanya melihat mencontek massal dari hasil akhir, saya pikir tesisnya bukan di situ. Tetapi, anak juga dibolehkan, diberikan kesempatan mencontek, itu kan tidak betul,&#8221; ujar anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pakar Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Arief Rachman, mengatakan, tidak boleh ada kompromi terhadap kecurangan. Dalam pendidikan, kejujuran adalah segalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kejujuran harus menjadi gerakan nasional. Dalam bidang pendidikan, tidak ada kompromi. Di semua jenjang, dari TK sampai dengan profesor,&#8221; kata Arief saat dihubungi <em>Kompas.com</em>, Rabu (15/6/2011).</p>
<p style="text-align: justify;">Ia juga mengatakan, program pendidikan harus bertanggung jawab dalam memberikan proses yang betul-betul mengembangkan potensi peserta didik. &#8220;Bukan sekadar transfer ilmu, tetapi memunculkan potensi pada anak-anak peserta didik,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, Arief mengimbau para pemegang kewenangan dalam dunia pendidikan harus melakukan evaluasi harian, evaluasi bulanan, evaluasi per semester, dan evaluasi pada akhir tahun ajaran.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Evaluasi itu harusnya tidak hanya kognitif, tetapi juga afektif. Letak kecurangan ada di evaluasi. Di mana sekolah berstrategi untuk meluluskan siswa-siswanya. Inilah yang harus dihantam. Jangan melakukan evaluasi hanya pada ujung tahun,&#8221; tandasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ketika anak tidak lulus, tidak akan hancur harkat dan martabatnya. Tapi, ketika tidak jujur, harkat pun hancur,&#8221; lanjut Arief.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber :<a title="Kompas" href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/16/08583333/Bukan.Cuma.Soal.Nyontek.di.Mana.Kejujuran" target="_blank"> Kompas</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://primagama.org/2011/06/21/bukan-cuma-soal-nyontek-di-mana-kejujuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendampingan Orang Tua Kunci Sukses Hadapi UN</title>
		<link>http://primagama.org/2011/04/12/pendampingan-orang-tua-kunci-sukses-hadapi-un/</link>
		<comments>http://primagama.org/2011/04/12/pendampingan-orang-tua-kunci-sukses-hadapi-un/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 05:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://primagama.org/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[&#160; REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta mengimbau para orang tua memberikan perhatian lebih kepada anaknya yang akan ikut Ujian Nasional (UN) 2011. Kepala Disdik DKI Jakarta, Taufik Hadi Mulyanto, menyebut salah satu kunci kesuksesan siswa dalam menghadapi UN selain belajar adalah pendampingan orang tua. Ia menyatakan, sepekan menjelang UN, setiap orang tua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_38" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://primagama.org/wp-content/uploads/2011/04/4c3eb5e03c197.jpg"><img class="size-medium wp-image-38" title="Perhatian Orang Tua" src="http://primagama.org/wp-content/uploads/2011/04/4c3eb5e03c197-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Pendampingan Ortu</p></div>
<p style="text-align: justify;">REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta mengimbau para orang tua memberikan perhatian lebih kepada anaknya yang akan ikut Ujian Nasional (UN) 2011. Kepala Disdik DKI Jakarta, Taufik Hadi Mulyanto, menyebut salah satu kunci kesuksesan siswa dalam menghadapi UN selain belajar adalah pendampingan orang tua.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menyatakan, sepekan menjelang UN, setiap orang tua harus meningkatkan perhatian kepada anaknya. Dengan begitu, sang anak bisa terpacu dari segi psikologis dan emosional. Sehingga yang bersangkutan bisa lebih siap dan tenang, serta terpacu menghadapi UN.</p>
<p style="text-align: justify;">Dampaknya berpengaruh terhadap rasa kepercayaan dirinya dalam mengerjakan soal UN. “Orang tua harus terus mendampingi anaknya agar dapat bimbingan eduktif. Semakin dekat hari pelaksanaan UN, bimbingan orang tua harus semakin meningkat,” kata Taufik, Ahad (10/4).</p>
<p style="text-align: justify;">Pelaksanaan UN tingkat SMA dimulai tanggal 18 sampai 21 April mendatang, SMK pada 18 sampai 20 April, SMP 25 hingga 28 April, dan SD dihelat 10-12 Mei mendatang. Sebanyak 122.139 siswa Di DKI Jakarta akan mengikuti UN tingkat SMA. Terdiri sekolah menengah atas (SMA) sebanyak 53.937 siswa, madrasah aliyah (MA) 4.679 siswa, sekolah menengah kejuruan (SMK) 63.382 siswa, dan SMA luar biasa (SMALB) sebanyak 141 siswa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kunci kelancaran siswa dalam mengerjakan soal UN, kata Taufik, tidak semata penguasaan pada materi mata pelajaran. Tapi, aspek nonteknis, seperti kondisi psikologis siswa juga berperan besar dalam kelancaran mengerjakan soal. “Salah satu kesuksesan siswa dalam menghadapi UN selain belajar adalah pendampingan orang tua. Hal ini harus diketahui para orang tua,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut dia, dengan persiapan matang maka tumbuh dalam diri siswa kepercayaan untuk mengerjakan soal dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, jika muncul bocoran soal maupun jawaban maka tak akan terpengaruh. “Saya harap siswa lulus dengan mengedepankan cara-cara jujur. Tidak malah sibuk mencari bocoran soal, apalagi bocoran jawaban,” harap Taufik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://primagama.org/2011/04/12/pendampingan-orang-tua-kunci-sukses-hadapi-un/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://stats.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://stats.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

