<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Primagama Semarang &#187; ratih</title>
	<atom:link href="http://primagama.org/author/ratih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://primagama.org</link>
	<description>Terdepan dalam Prestasi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Dec 2011 02:16:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Intip Bakat Anak Lewat Sidik Jari</title>
		<link>http://primagama.org/2011/12/07/intip-bakat-anak-lewat-sidik-jari/</link>
		<comments>http://primagama.org/2011/12/07/intip-bakat-anak-lewat-sidik-jari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 02:16:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://primagama.org/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Langkah paling awal untuk mengembangkan potensi kecerdasan anak adalah dengan mengenali bakat dan gaya belajarnya. Untuk mengetahuinya, orangtua bisa mengajak anak melakukan analisis sidik jari (fingerprint analysis). Analisis sidik jari adalah sebuah metode pengukuran dengan pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dalam kaitannya dengan potensi, motivasi, karakter, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Langkah paling awal untuk mengembangkan potensi kecerdasan anak adalah dengan mengenali bakat dan gaya belajarnya. Untuk mengetahuinya, orangtua bisa mengajak anak melakukan analisis sidik jari (fingerprint analysis).</p>
<p>Analisis sidik jari adalah sebuah metode pengukuran dengan pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dalam kaitannya dengan potensi, motivasi, karakter, dan gaya belajar anak.</p>
<p>&#8220;Penggunaan alat tes dimaksudkan untuk membantu para orangtua lebih mudah dalam memahami potensi tersebut. Dengan mengenali bakat anak lebih dini, orangtua lebih mudah dalam memberikan stimulus dan pengarahan yang tepat,&#8221; kata Andrian Benny Hidayat, Direktur PsychoBiometric Research Lab R&#038;D Talent Spectrum.</p>
<p>Ia menjelaskan, saat ini banyak orangtua dan guru yang kesulitan berinteraksi dengan anak sehingga meminta anak untuk belajar bukanlah hal yang mudah. Tidak jarang pula orangtua memaksakan anaknya mengikuti kegiatan les yang tidak diminati anak. &#8220;Setiap anak punya bakat, dengan mengenalinya, ini bisa bisa jadi modal awal dalam meraih cita-cita anak,&#8221; paparnya.<br />
Para ahli di bidang ilmu dermatoglyphics (ilmu yang mempelajari pola sidik jari) dan kalangan neuro-anatomi (kedokteran anatomi tubuh) telah menemukan fakta bahwa pola sidik jari bersifat genetis dan telah muncul ketika janin dalam kandungan. </p>
<p>Pola guratan-guratan kulit pada sidik jari, yang dikenal sebagai garis epidermal, ternyata memiliki korelasi dengan sistem hormon pertumbuhan pada sel otak yang sama dengan faktor garis epidermal. </p>
<p>Pada dasarnya metode analisis sidik jari hanya menginterpretasikan potensi dalam diri seorang anak, sedangkan pencapaian hasil kemampuan kecerdasan anak lebih dipengaruhi oleh usaha yang dilakukan oleh anak dengan dukungan dari orangtua, guru, dan lingkungannya.</p>
<p>&#8220;Dengan memahami potensi bakat anak, orangtua dapat mengetahui cara terbaik yang dapat dilakukan anak dalam belajar. Selain itu, bakat anak yang menonjol juga dapat dikembangkan dengan tenaga dan biaya, serta dalam waktu yang lebih efisien,&#8221; papar Andrian.</p>
<p>Sumber : edukasi.kompas.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://primagama.org/2011/12/07/intip-bakat-anak-lewat-sidik-jari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Cuma Soal &#8220;Nyontek&#8221;, di Mana Kejujuran?</title>
		<link>http://primagama.org/2011/06/21/bukan-cuma-soal-nyontek-di-mana-kejujuran/</link>
		<comments>http://primagama.org/2011/06/21/bukan-cuma-soal-nyontek-di-mana-kejujuran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 13:39:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ratih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://primagama.org/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, KOMPAS.com — Irma dan Siami adalah dua ibu yang mengungkapkan telah terjadi kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional SD di sekolah tempat anak mereka menuntut ilmu. Putra mereka diarahkan dan diorganisasi guru untuk melakukan kecurangan dengan membagikan jawaban soal ujian kepada teman-temannya. Irma, orangtua siswa SD 06 Petang Pesanggrahan, Jakarta Selatan, menyatakan, tak memiliki maksud [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>JAKARTA, KOMPAS.com </strong>— Irma dan Siami adalah dua ibu yang mengungkapkan telah terjadi kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional SD di sekolah tempat anak mereka menuntut ilmu. Putra mereka diarahkan dan diorganisasi guru untuk melakukan kecurangan dengan membagikan jawaban soal ujian kepada teman-temannya. Irma, orangtua siswa SD 06 Petang Pesanggrahan, Jakarta Selatan, menyatakan, tak memiliki maksud apa pun di balik apa yang dilaporkannya. Sama seperti Siami, ia hanya menuntut sebuah kejujuran. Bukan penyangkalan.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya punya bukti. Saya ingin tahu, keseriusan dari pemerintah, khususnya orang-orang dewasa, untuk melihat kasus ini. Apa pun yang saya punya akan saya keluarkan dengan tepat kalau mereka tidak sadar. Kita harus membebaskan anak-anak kita dari tangan kotor orang dewasa dan bukan mengikuti ambisi orang dewasa,&#8221; ujar Irma kepada <em>Kompas.com</em>, Rabu (15/6/2011) malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menyatakan terkejut dengan kesimpulan Kementerian Pendidikan Nasional atas kasus kecurangan di <a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/15/12330119/UN.di.SD.Gadel.II.Tak.Perlu.Diulang">SD Gadel II Surabaya</a>. <a href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/15/12155065/Mendiknas.Tak.Terjadi.Sontek.Massal.di.Gadel">Menteri Pendidikan Nasional M Nuh mengatakan</a>, berdasarkan hasil analisa tak bisa dikatakan terjadi sontek massal karena dilihat dari pola jawaban siswa, tak ada pola identik dalam lembar jawaban 60 siswa peserta ujian. Menurut Irma, apa yang terjadi di Surabaya hampir sama dengan yang dialami anaknya. Adanya upaya pengorganisasian terhadap siswa untuk berbuat curang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya hanya menuntut untuk melindungi hak anak, mereka berhak mendapat pendidik yang layak. Anak SD mana ada pikiran untuk mencontek massal. Tetapi, yang menyuruh <em>nyontek</em> itu orang dewasa, guru mereka. Saya tidak mencari musuh. Saya juga tidak masalah kalau UN diulang. Buat saya, tidak penting nilai akademik tinggi, tetapi akhlak, kejujuran, itu yang harus ditanamkan kepada anak-anak,&#8221; tutur Irma.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya merasa anak-anak tidak dilindungi. Ibu Siami hanya mewakili anaknya, saya mewakili anak saya berbicara kejujuran. Bagaimana kalau mereka sudah berbicara jujur dan kita orang dewasa malah menyangkalnya? Mereka akan berpikir, tidak ada gunanya bicara jujur. Itu yang saya tidak mau,&#8221; lanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dihubungi terpisah, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait juga mengatakan, anak-anak yang sudah mengungkapkan apa yang dialaminya secara jujur hendaknya diberikan apresiasi. Hal ini dinilainya penting agar anak-anak merasa apa yang telah dilakukannya adalah benar dengan mengungkapkan tindakan kecurangan yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Anggota Komisi X DPR yang membidangi masalah pendidikan, Deddy Gumelar, mengatakan, substansi persoalan yang harus dilihat pemerintah bukan sekadar ada pencontekan massal atau tidak. Namun, ada perilaku memerintah siswa untuk berbuat curang oleh guru.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ini adalah sebuah dekadensi moral pendidikan kalau memang gurunya yang memang meminta anak melakukan itu. Kalau hanya melihat mencontek massal dari hasil akhir, saya pikir tesisnya bukan di situ. Tetapi, anak juga dibolehkan, diberikan kesempatan mencontek, itu kan tidak betul,&#8221; ujar anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pakar Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Arief Rachman, mengatakan, tidak boleh ada kompromi terhadap kecurangan. Dalam pendidikan, kejujuran adalah segalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kejujuran harus menjadi gerakan nasional. Dalam bidang pendidikan, tidak ada kompromi. Di semua jenjang, dari TK sampai dengan profesor,&#8221; kata Arief saat dihubungi <em>Kompas.com</em>, Rabu (15/6/2011).</p>
<p style="text-align: justify;">Ia juga mengatakan, program pendidikan harus bertanggung jawab dalam memberikan proses yang betul-betul mengembangkan potensi peserta didik. &#8220;Bukan sekadar transfer ilmu, tetapi memunculkan potensi pada anak-anak peserta didik,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, Arief mengimbau para pemegang kewenangan dalam dunia pendidikan harus melakukan evaluasi harian, evaluasi bulanan, evaluasi per semester, dan evaluasi pada akhir tahun ajaran.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Evaluasi itu harusnya tidak hanya kognitif, tetapi juga afektif. Letak kecurangan ada di evaluasi. Di mana sekolah berstrategi untuk meluluskan siswa-siswanya. Inilah yang harus dihantam. Jangan melakukan evaluasi hanya pada ujung tahun,&#8221; tandasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ketika anak tidak lulus, tidak akan hancur harkat dan martabatnya. Tapi, ketika tidak jujur, harkat pun hancur,&#8221; lanjut Arief.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber :<a title="Kompas" href="http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/16/08583333/Bukan.Cuma.Soal.Nyontek.di.Mana.Kejujuran" target="_blank"> Kompas</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://primagama.org/2011/06/21/bukan-cuma-soal-nyontek-di-mana-kejujuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://stats.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://stats.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

